Gurami dikenal sebagai ikan yang lambat pertumbuhannya.
Untuk membesarkan benih ukuran 2-3 cm Sampai siap konsumsi (500 g) diperlukan
waktu sekitar 1,5 tahun. Wajar bila banyak yang enggan mengusahakannya. Kini
hal ltu bisa diatasi dengan menerapkan pola budidaya secara bertahap.
Pemeliharaan di kolam intensif selama 12-14 bulan Osphronemus gouramy, itu
mencapai bobot 500 g/ekor. Ini adalah beternak dengan cara segmentasi. Dengan
segmentasi ini, “Beternak gurami lebih cepat, setiap tahap 3-4 bulan,“ ujar
Azhari, petani di Dramaga, Bogor.
![]() |
| (Sumber foto gurungeblog.wordpress.com) |
3 bulan berikutnya dipanen ukuran bungkus rokok (10 cm).
Harganya bisa 2 kali lipat. Dengan kematian 10% petani bisa mengantongi Rp 3
juta belum termasuk biaya pakan dan tenaga kerja.
Pemeliharaan gurami di kolarn intensif per segmen menghemat
waktu 2-4 bulan. Dengan cara itu “Perputaran modal juga cepat,” tegas Julius
Tirta Sendjaya petani di Parung. Selain itu ukuran kolam budidaya tidak luas,
100-500 m2 tapi dalam jumnlah banyak. Selain kolam pendederan. ada yang untuk
pembesaran. Kesehatan ikan dapat dikontrol sehingga kegagalan panen akibat penyakit
dapat diminimkan.
TERGANTUNG MODAL
Petani bermodal minim bisa memulai usaha dan pembenihan. Modal besar,
pembesaran. Semua segmen budidaya pun tidak masalah. Toh, jika tidak ada
permintaan benih bisa dibesarkan lagi hingga siap konsumsi.
Pembenih hanya menghasilkan benih ukuran kuku (2-3 cm).
Modal yang diperlukan sepasang induk dan wadah penetasan, seperti ember, bak
fiber, atau akuarium. Perawatan larva sampai burayak di akuarium lebih mudah.
Selain kesehatannya mudah di kontrol juga bisa diusahakan di lahan terbatas.
Pembesaran pilihannya lebih banyak.
Pertama, membesarkan benih ukuran kuku hingga sebesar wadah
korek (4-5cm).
Petani juga bisa memulai usaha dan benih ukuran wadah korek, lalu dibesarkan
hingga seukuran bungkus rokok (9-10cm). Atau dimulai dan benih ukuran bungkus
rokok sampai siap konsumsi.
Sebelum mulai usaha perlu mengetahui syarat-syarat gurami
tumbuh dengan baik. Di antaranya pemilihan lokasi, konstruksi kolam, benih
berkualitas, dan perawatan yang benar.
SYARAT LOKASI
Gurami termasuk ikan yang mudah dibudidayakan. Ia bisa hidup di sembarang
tempat. Meskipun demikian, pemilihan lokasi yang tepat juga perlu diperhatikan.
Di lokasi berketinggian 20-400 m dpl pertumbuhan ikan cukup baik. Namun, di
dataran tinggi, 800 m dpl pertumbuhannya agak lambat.
Lokasi budidaya harus memiliki suhu dan kualitas air sesuai
kemauan gurami. Ia tumbuh baik di daerah bersuhu 25- 28C. Meskipun demikian, ia
sangat peka terhadap perubahan suhu. Lokasi yang memiliki perbedaan suhu siang
dan malam tinggi kurang baik untuk gurami. Apalagi daerah yang suhunya
seringkali berubah-ubah bisa menyebabkan ikan stres.
Kepekaan gurami terhadap suhu dapat diatasi dengan
merekayasa lingkungan hidupnya. Penyebab naiknya suhu adalah panas matahari.
Ketika cuaca panas tinggi air yang umum digunakan 70 80 cm,
ditingkatkan l0-20 cm. Saat penghujan tiba biasanya suhu dingin dan diatasi
dengan menurunkan tinggi air.
Kualitas air di lokasi mendukung pertumbuhan ikan. Ia harus mengandung cukup
mineral dan zat-zat hara yang dibutuhkan.
Ketersediaan pakan alami yang cukup bisa meningkatkan
kelulusan hidup benih pada tahap awal budidaya.
Kadar oksigen tidak berpengaruhi terhadap kehidupan gurami.
Ia memiliki labirin yang berfungsi untuk mengambil udara. Angka pH air ideal
6,5- 7, kesadahan 7HD. Air dan sungai atau irigasi teknis bisa dipakai asal
tidak tercemar limbah pestisida atau sisa-sisa pembuangan rumah tangga.
Gurami menyukai air yang bersih. Air kerub dikhawatirkan
mengandung kotoran. Jika kotoran itu bercampur sisa-sisa pakan akan terjadi
pembusukan. Hal itu memicu timbulnya bakteri, parasit, dan cacing.
Pakan gurami harus tersedia secara kontinyu di lokasi. Pelet
bisa didatangkan dan daerah lain. Namun, daun sente (Alocasia macrorrhiza),
kegemaran gurami terkadang langka. Karena kebutuhan daun-daunan itu cukup besar
sebaiknya petani menanamnya di sepanjang pematang kolam.
PERSIAPAN KOLAM
Persiapan kolam merupakan langkah awal proses budidaya. Ada 2 cara yang
bisa dilakukan, yakni membuat kolam baru dan pengolahan tanah seusai panen.
Jika membuat kolam baru, konstruksi dibuat kuat dan kokoh. Bentuk kolam umumnya
sama dengan ikan lain. Ukurannva tergantung kemampuan modal dan luas lahan.
Dinding kolam dirancang agar tak mudah bocor atau terkikis. Kemiringannya 60
derajat dan dasar kolam.
Pematang antar kolam dibuat kuat dan lebar untuk
mengantisipasi longsor. Tinggi pematang kurang lebih 125 cm diukur dari dasar
kolam. Permukaan dasar kolam dibuat agak miring. Tujuannya untuk memudah
pembuangan air dan panen. Saluran pemasukan dan pengeluaran air pada setiap
kolam dibuat terpisah. Tujuannya untuk menghindari penularan penyakit ke kolam
lain.
Kedua saluran diletakkan di kedua dinding secara diagonal
atau menyilang. Pralon pvc atau bambu umum digunakan. Jumlahnya tergantung luas
kolam, ukuran 100 m2 cukup 2 saluran air. Lubang air ditutup kasa agar kotoran
tidak ikut masuk ke kolam.
Kualitas tanah yang baik menciptakan kondisi lingkungan yang layak untuk
gurami. Karena itu keasamannya harus dipertahankan. Caranya dengan menaburkan
kapur sebanyak 100 g/m2 dan 200 g/m2 garam dapur.
Penanganan kolam yang sudah produksi lain lagi. Sebelum
digunakan air dibuang habis lalu dasar kolam dijemur hingga kering. Tujuannya
untuk mematikan bakteri, jamur, dan cacing. Kotoran atau sisa-sisa pakan yang
menumpuk dibuang.
Setelah kering, tanah dicangkul sedalam 10-20 cm lalu
dibalik dan ratakan. Lapisan atas dianggap sudah tidak kaya hara sehingga perlu
diganti yang bawah. Jemur di terik matahari sampai kering. Untuk menjaga keasaman
tanah taburkan kapur 100 g/m2 dan 200g/m2 garam dapur.
PENGISIAN AIR
Kolam yang sudah siap segera diisi air secara bertahap. Setelah mencapai tinggi
20 cm saluran air ditutup. Taburkan pupuk kandang, seperti kotoran ayam
(postal) sebanyak 500 g/m2. Tujuannya untuk menumbuhkan plankton. Air dibiarkan
menggenang selama beberapa hari agar terjadi proses dekomposisi atau
penguraian.
Yang perlu diperhatikan kehadiran anak katak/percil, burayak
mujair, atau lele yang seringkali ikut terbawa air. Untuk mengatasinya taburkan
saponin sebanyak 5-10 kg. Alternatif lain dengan pemberian daun lampesan
(Hyptis suaveolens) secukupnya.
Saponin bisa mematikan hewan-hewan berdarah merah sedang lampesan hanya
memabukan.
Pesaing atau predator yang sudah mati itu dibuang agar tidak
busuk.
Beberapa hari kemudian air berubah menjadi hijau tanda bibit
plankton sudah ada. Masukkan air secara bertahap hingga mencapai tinggi 60- 80
cm. Pupuk buatan, seperti SP-36 sebanyak 20 g/m2 dapat diberikan untuk
mempercepat pertumbuhan pakan alami. Diamkan selama 5-7 hari sampai wama air
berubah menjadi hijau segar. Saat itu benih sudah siap ditebar.
TABUR BENIH
Pilih benih sehat untuk ditebar. Ciri benih yang baik, gerakan renangnya
lincah, sisik mengkilap, bebas penyakit, dan ukuran seragam. Benih kurang
seragam menyebabkan persaingan mendapatkan pakan dan ruang gerak. Ikan
berukuran lebih besar dipastikan tumbuh lebih cepat, sementara yang kecil tetap
kuntet.
Ada beberapa jenis gurami yang sudah dikembangkan, seperti
paris, safir, merah, jepang, dan soang. Setiap jenis memiliki kelebihan
masing-masing. Yang perlu diperhatikan asal benih.
Usahakan jaraknya tidak jauh dengan lokasi supaya tidak
“mabuk” selama pengangkutan. Penebaran dilakukan pada pagi atau sore hari. Saat
itu cuaca redup sehingga penyesuaian berlangsung lebih cepat dan menghindari
benih stres. Secara perlahan-lahan kantung benih dimasukkan ke air.
Biarkan beberapa saat agar suhu di kantung sama dengan air kolam.
Buka kantung lalu tuang ke air. Biarkan benih berenang
sendiri.
PERAWATAN BERTAHAP
Gurami yang dipelihara dari benih ukuran 2 cm sampai siap konsumsi
memerlukan waktu lama.
Dengan segmentasi budidaya relatif lebih cepat. Tahapan itu dimulai dan
pembenihan, pendederan hingga pembesaran. Setiap segmen dilakukan di kolam terpisah
dan penanganan berbeda.
a. Pembenihan
Pembenih hanya menyediakan benih sebesar kuku atau ukuran 2-3 cm.
Modalnya sepasang induk, kolam perkawinan. sarang telur, dan akuarium untuk
penetasan sekaligus perawatan.
Induk siap kawin dimasukkan ke kolam. Sarang dan ijuk untuk
melekatkan telur diletakkan di pinggir. Keesokan han dicek, jika sudah berisi
telur, angkat lalu dimasukkan ke akuarium. Sehari kemudian telur sudah menetas.
Larva belum diberi pakan, toh, persediaan pakan di kantung
telur (yolk sack) cukup selama 2 hari. Setelab cadangan makanannya mulai
menipis, kutu air atau artemia diberikan. Usahakan pemberian tidak terlambat.
Larva yang terlanjur kelaparan kondisinya Iemah. Dua hari berikutnya barulah
diberi cacing rambut. Biasanya pertumbuhan ikan cepat setelah makan cacing
rambut. Dalam waktu 30 hari sejak tetas benih sudah sebesar biji oyong (1
cm). Dengan cara ini kelulusan hidupnya mencapai 95%.
Jika menginginkan benih agak besar, perawatan di akuarium
dilanjutkan kembali. Populasi dijarangkan dengan cara memindahkan sebagian
benih ke tempat lain. Pakan utama tetap cacing rambut. Sistem
pemeliharaan dengan air mengalir.
Setelah 1 bulan diperoleh benih ukuran kuku (1-3 cm). Benih ini bisa dipanen
dan siap ditebar ke kolam.
b. Pendederan
Pendederan dilakukan di kolam ukuran 50-100 m2. Benih sebesar kuku ditebar
dengan kepadatan 40 ekor/m2. Contoh, ukuran kolam 100 m2 memerlukan benih
sekitar 4.000 ekor. Tinggi air 30-40 cm dengan debit air 10 liter/menit.
Seminggu atau 10 hari setelah tebar benih belum diberi pakan
buatan. Di samping ukuran mulut belum mampu menelan pelet, pakan alami
yang tersedia di kolam sudah cukup. Pada hari ke-11 pelet baru boleh diberikan.
Pelet yang diberikan mengandung 50% protein. Kebutuhan pakan per hari dihitung
menurut bobot ikan, biasanya dipatok 1 %. Jumlah pakan yang diberikan kecil,
tapi frekuensinya diperbanyak. Yang umum 2-3 kali, ditingkatkan menjadi 6 kali.
Perawatan sehari-hari selain memberi pakan, ikan selalu
dikontrol kesehatannya. Benih sebesar ini masih rentan serangan penyakit.
Kualitas air yang masuk ke kolam selalu dicek. Bila lingkungan kolam terlihat
ada tanda-tanda berubah segera diberi tindakan pencegahan.
Ketika cuaca panas misalnya, suhu air akan meningkat.
Sebelum ikan stres sebaiknya volume air ditingkatkan. Sebaliknya, ketika suhu
dingin di musim hujan tinggi air dikurangi. Selain itu, pH air tak luput dan
perhatian. Saat penghujan biasanya pH air turun. Kondisi seperti itu bisa
mengundang kehadiran penyakit. Untuk menstabilkannya taburkan garam secukupnya.
Sampling berat ikan setiap bulan merupakan kegiatan rutin.
Dengan cara itu bisa diketahui pertumbuhan ikan. Keseragaman ukuran sangat
penting untuk menentukan jumlah pakan yang diberikan. Karena itu perlu
dilakukan sortir, ukuran yang tidak standar dipindah ke kolam lain.
Pemeliharaan selama 45-60 hari menghasilkan benih sebesar
dim/silet atau 4-5cm.
Benih bisa dipanen dan siap dijual. Bila tidak ada permintaan benih, proses
budidaya dilanjutkan lagi. Namun, kepadatan ikan dikurangi menjadi 30 ekor/m2.
Pemeliharaan selama 60 hari diperoleh benih ukuran wadah korek atau 7-8 cm.
c. Pembesaran
Tahap pembesaran dimulai dan benih sebesar korek atau ukuran 7-8 cm.
Kolam pembesaran yang digunakan berukuran 100-500 m2. Kepadatan tebar 20 ekor/m2.
Contoh, untuk kolam ukuran 500 m2 dibutuhkan benih sekitar 10.000 ekor. Tinggi
air 70 cm dengan debit air yang masuk ke kolam 15 20 liter/menit.
Pakan buatan per hari diberikan 1% dan bobot ikan. Frekuensi
pemberian 2-3 kali, pukul 07.00, 11.00, dan 13.00. Pelet yang digunakan harus
mengandung 25% protein. Pakan tambahan berupa daun sente. Kebutuhan-nya per
hari 10% dari bobot ikan diberikan sekali pada sore hari, pukul 17.00.
Perawatan sehari-hari di tahap ini hampir sama dengan tahap
pendederan. Benih masih relatif rentan serangan penyakit dan mudah stres bila
ada gangguan atau perubahan lingkungan secara mendadak.
Untuk menghasilkan benih sebesar bungkus rokok atau 10-12
ekor per kilo dibutuhkan waktu 75 -100 hari. Benih sebesar itu sudah bisa
dipanen dan dijual. Atau dipindah ke kolam lain untuk dibesarkan hingga ukuran
konsumsi.
Kolam pembesaran berukuran lebih besar. Ukuran kolam 500 m2
tidak masalah. Yang penting kepadatan ikan dikurangi 10 ekor/m2. Tinggi air
dinaikkan menjadi 80 cm, debit air 20 liter/menit. Pakan buatan diberikan 2
kali sehari., pukul 08.00 dan 13.00. Pelet harus mengandung 20%protein. Pakan
tambahan daun sente cukup 10% dari bobot ikan diberikan pada sore hari, pukul
16.00.
Benih sebesar itu sudah agak tahan serangan penyakit. Namun,
perlu diwaspadai kondisi lingkungan kolam. Perawatan dan pengontrolan setiap
hari dianggap perlu. Pemberian garam secukupnya rutin setiap bulan untuk
mencegah munculnya penyakit.
Pembesaran ini memerlukan waktu 90-100 hari untuk mendapatkan ikan ukuran
konsumsi, 500 g/ekor.
Ikan sebesar itu bisa dipanen dan siap dijual ke pasar atau
restoran. Bila belum ada order, ikan tetap dipelihara di kolam. Namun,
pemberian pakan tidak terlalu intensif. Pelet bisa diberikan sekali pada
pagi hari, sore daun sente. Ini dilakukan agar pengeluaran tidak mcmbengkak.
PENYAKIT GURAMI
Penyakit merupakan masalah utama budidaya gurami. Kehadirannya perlu
diwaspadai, sebab serangannya bisa menyebabkan kematian sehingga gagal panen.
Penyebab yang kerap dijumpai seperti bakteri, jamur, parasit, dan cacing.
Mereka muncul akibat lingkungan kolam yang kotor. Karena itu
periu dicermati kepadatan tebar kualitas air dan pakan berlebihan. Berikut
beberapa penyakit yang kerap ditemui di kolam.
Kutu ikan
Penyakit ini disebabkan parasit Argulus indicus. Serangannya dengan cara
menempel lalu menggigit tubuh. Ikan yang terserang akan mengalami pendarahan.
Penularan ke ikan lain melalui air atau kontak langsung. Parasit ini muncul
pada kolam-kolam yang kualitas airnya buruk.
Cara pengendalian dengan mengeringkan kolam seusai panen
sehingga telur-telurnya mati. Ikan yang sudah terserang diobati. Caranya dengan
menaburkan garam sebanyak 10-15 kg/m3 ke kolam.
Usahakan saat pengobatan saluran
masuk ditutup, air diturunkan 10-20 cm. Sehari kemudian air bisa ditambahkan.
Atau ikan sakit direndam air yang sudah dibubuhi garam sebanyak 10-15 gr/l
selama 15 menit.
Cacing ikan
Penyebabnya parasit Dactylogyrus dan Gyrodactylus. Kualitas air yang buruk,
kurang pakan, kepadatan tinggi. dan perubahan lingkungan mendadak memicu
munculnya keluarga cacing itu.
Gejala awal ditandai nafsu makan ikan menurun, sering muncul
di permukaan air, dan terkadang berbaring dengan insang terbuka.
Dactylogyrus lebih menyukai insang Gyrodactylus menyerang bagian badan dan
sirip.
Cara penanggulangannya dengan mengganti air dalam jumlah
besar. Taburkan garam dapur 40 g/m3 ke kolam, lalu tutup saluran air
selama 24 jam. Ikan sakit direndam kelarutan garam dapur sebanyak 40 mg/l air.
Mata BELO
Gejala penyakit ini ditandai mata membengkak dan menonjol keluar dan
kelopaknya. Ikan yang terserang akan buta. Lama-kelamaan kondisi tubuh lemah
dan akhirnya mati. Penyebab penyakit ini diduga karena virus/cacing. Serangan
awal ditandai kondisi ikan lemah, nafsu makan kurang, dan sering muncul ke
permukaan. Saat itu bisa dilakukan pengobatan dengan cara menaburkan garam 1
kg/m3. Saluran air dihentikan selama 24 jam. Keesokan harinya baru diganti
total.
Cara lain dengan memberikan antibiotik yang dicampur dengan
pakan. Selama pengobatan air bisa diganti total. Biasanya pengobatan itu
hanya menyelamatkan ikan yang masih sehat. Ikan yang sudah mati diambil lalu
dibakar.
Jamur
Gejala awal serangan ditandai benang-benang halus mirip kapas menempel pada
tubuh yang terluka.
Penyebabnya jamur Saprolegnia dan Achyla. Dalam waktu
relatif cepat jamur ini menyebar keseluruh ikan di kolam. Jamur ini tidak
menimbulkan kematian, tapi kondisi ikan lemah, nafsu makan kurang. dan
akhirnya kurus. Lemahnya daya tahan tubuh membuka peluang kehadiran penyakit
lain.
Cara penanggulannya dengan memberi garam sebanyak 400 mg/m3.
Pada saat pengobatan saluran air dihentikan. Perlakuan itu diulang 3 kali
secara berurutan dan dilanjutkan setiap bulan. Ikan yang sakit direndam dalam
larutan garam 20 mg/l air atau malachyte oxalate 1 mg/l atau dosis 0.1 – 0,5
mg/l selama 12-24 jam. Alternatif lain dengan merendam ikan ke larutan formalin
200 ppm selama 2jam.
Bakteri
Penyebabnya Aeromonas sp dan Pseudomonas sp. Bakteri ini sering dijumpai
pada kolam yang tercemar bahan organik. Keduanya seringkali ditemui di musim
kemarau atau menjelang penghujan. Air kolam kurang baik atau perbedaan suhu
siang dan malam hari juga berperan munculnya penyakit ini.
Gejala klinis dicirikan luka di tubuh dan berdarah, perut
membesar, lendir mencair, sisik mengelupas, dan timbul borok. Dalam waktu
singkat kondisi ikan lemah. sering muncul ke permukaan, lalu mati.
Serangan penyakit ini perlu diwaspadai sebab tak jarang berakibat kematian
massal.
Cara penanggulangannya dengan merendam ikan sakit ke larutan
oxytetracycline 2 5 mg/l air selama 24 jam. Perlakuan itu diulang 3 kali secara
berurutan. Ikan yang terinfeksi bisa direndam larutan malachite green oxalat
0,5 mg/l selama 1 jam. Satu bulan kemudian ikan diberi pakan yang mengandung
oxytetracycline 60 mg/kg pakan selama 7 hari berturut-turut.
Bercak putih
Parasit Ichthyophthyrius sp merupakan penyebab penyakit ini. Ia menyerang
kulit ikan dan menimbulkan bercak-bercak putih. Gejala klinis ditandai bercak
putih menyebar di tubuh, warna sisik pucat. ikan sering menggosokkan
badan dan tampak megap-megap seolah kekurangan oksigen. Ikan yang terserang
direndam dengan larutan formalin 25 mg/l ditambah malachite green oxalat 0,2
mg/l selama 24 jam.
PANEN
Panen merupakan akhir kegiatan budidaya. Keberhasilan usaha dapat diketahui
dari jumlah tonase atau pertumbuhan selama periode waktu tertentu. Ada 2 cara
panen, yaitu benih dan ukuran konsumsi.
Panen benih dilakukan dengan cara menurunkan air sampai
ketinggian tertentu. Aliran air diperkecil sampai tersisa di kowen (lubang
kecil di sudut kolam). Di atas kowen diberi dedaunan, seperti daun pepaya
talas, atau pisang agar benih merasa aman dan nyaman. Benih yang sudah
terkumpul ditangkap dengan saringan atau jaring mesh size kecil. Satu per satu
benih dimasukkan ke ember. Kemudian angkut ke tempat penampungan sementara
berupa hapa yang dipasang di kolam atau saluran air.
Seleksi ukuran dan kesehatan ikan, lalu pindahkan ke wadah
lain. Sebelum dikirim ke tempat tujuan sebaiknya benih dibera atau
dipuasakan selama 1 hari.
Panen ukuran konsumsi sebaiknya menggunakan jaring. Cara ini lebih mudah dan
ikan tidak rusak. Selama proses pemanenan kolam tidak perlu dikeringkan. Air
kolam cukup dikurangi sesuai tinggi jaring.
Jaring direntangkan dan ujung kolam dan ditarik secara
perlahan-lahan. Prinsipnya untuk memperkecil ruang gerak ikan sampai terkumpul
di saiah satu sisi kolam. Masukkan beberapa lembar daun pisang kering atau
talas agar ikan merasa nyaman. Kemudian satu per satu ikan ditangkap dengan
hati-hati, lalu dimasukkan ke wadah penampungan. Sebelum diangkut ikan
sebaiknya dipuasakan selama 1- 2 hari.
PASCA PANEN
Pengangkutan gurami harus hati-hati. Tak jarang kasus ikan mati di tempat
tujuan akibat salah angkut, seperti kepadatan tinggi dan dilakukan secara
mendadak tanpa ada proses penyesuaian. Yang perlu diperhatikan selama
pengangkutan kondisi ikan harus segar.
Pengangkutan benih sampai ukuran 5 cm masih memerlukan
oksigen. Sebab, alat pernafasan tambahan (labirin) belum terbentuk sempurna.
Kepadatan benih disesuaikan ukuran dan lokasi pengiriman.
Untuk pengiriman jarak dekat (25 km) atau selama 1 jam, jumlah benih bisa
diperbanyak. Lain hal bila lokasi tujuan relatifjauh (100 km) sebaiknya benih
tidak terlalu padat. Masalah akan timbul jika gurami ukuran konsumsi yang
diangkut terlalu padat. Duri sirip atau tutup insang akan saling melukai
sehingga ikan menjadi stres, lalu mati.
Untuk mengurangi stres gerakan ikan diupayakan seminimal
mungkin. Caranya dengan menurunkan suhu air atau obat bius, seperti
phenoxyethanol, dosis 0,15 mg/l air. Gurami dengan bobot 500-600 gr dapat
diangkut dengan kepadatan 15 ekor/ 10 liter air selama 6 jam.
Cara tradisional dengan wadah terbuka seperti jirigen, atau
drum khusus yang diletakkan mendatar. Tinggi air mencapai 10-15 cm
sehingga ikan bisa menghirup udara. Pengangkutan dapat dilakukan dengan
kepadatan tinggi 1 ekor/liter air. (Sumber: Milis Agromania).
Sumber :
http://omkicau.com/2010/03/07/persiapan-ternak-pembibitan-panen-dan-penyakit-ikan-gurami/











